Calon Kapolres Harus Kuasai Manajemen Sabhara, Begini Penjelasan Kombes Pol Aridan Roeroe

Kombes Pol Aridan Roeroe bersama sepuluh perwira polisi berpangkat AKBP dengan berlatar-belakang gelar akademik Magister (S2) dan bergelar Doktor (S3) di Sespimpol Mabes Polri. Kesepuluh perwira tersebut mengikuti jalur khusus Program Matrikulasi Sespim.

 

MANADO, OKE –

Calon Kapolres atau pimpinan wilayah di tubuh Polri harus memiliki pemahaman komprehensif tentang Manajemen Sabhara

 

Kepala Bagian Operasi dan Evaluasi Korps Sabhara Mabes Polri Kombes Pol Aridan J Roeroe membeberkan beberapa poin manajemen Sabhara untuk diaplikasikan tiap pemimpin.

Belum lama ini, Mantan Kapoltabes Manado ini memberikan pembekalan kepada sepuluh perwira polisi berpangkat AKBP dengan berlatar-belakang gelar akademik Magister (S2). Bahkan, ada pula yang bergelar Doktor (S3) di Sespimpol Mabes Polri. Kesepuluh perwira tersebut mengikuti jalur khusus Program Matrikulasi Sespim.

 

“Iya. Perwira polisi yang sangat berprestasi dan terpilih. Mereka itu para calon-calon kapolres. Pengetahuan yang dibagikan yaitu tentang Manajemen Sabhara yang dalam aplikasinya mengenai cara yang baik memimpin institusi Polri dalam suatu wilayah (Polres). Di mana, didalamnya terdapat Satuan Sabhara,” kata Roeroe.

 

Adapun topik yang dibahas, mengenai patroli. Lanjut Roeroe, harus dimaksimalkan dalam bertugas. Dengan pusat konsentrasi  pada kegiatan masyarakat.

 

“Peraturan Kapolri-nya begitu. Supaya daerahnya aman,” kata Roeroe.

 

Lebih lanjut, pada wilayah tugas, polisi harus lebih banyak hadir di tengah-tengah masyarakat dengan segala atribut atau identitas resmi sebagai anggota Polri. Selain itu, pelatihan kepemimpinan juga bukan hanya untuk perwira. Melainkan diberikan juga ke brigadir maupun bintara.

 

“Seorang Polisi Sabhara dengan pangkat Brigadir sekalipun harus punya kecakapan tentang kepemimpinan,” jelasnya.

 

Menurutnya, untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan yaitu dengan kegiatan patroli. Apabila dalam kehadiran di suatu wilayah terjadi sesuatu, maka yang harus dihindari adalah tindakan gegabah dengan menggunakan senjata atau sejenisnya. Ada langkah-langkah yang harus dilakukan.

 

Pertama, anggota polisi yang tiba di lokasi kejadian harus memperkenalkan diri sekaligus menunjukkan identitas atau lambang Polri jika tidak berseragam lengkap. Kemudian beri perintah untuk menghentikan kejadian. Selanjutnya gunakan tangan kosong untuk melerai dan terakhir menggunakan tangan keras.

 

Tangan keras dalam hal ini berarti memakai peralatan seperti tongkat dan borgol untuk menghentikan tindakan pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kejadian, misalnya perkelahian dan sebagainya. Langkah-langkah ini harus dilakukan seorang anggota polisi yang bertugas, jika tidak maka akan bersentuhan dengan pelanggaran HAM.

 

“Dari penjelasan tersebut, artinya tidak boleh ada tindakan terburu-buru untuk menggunakan kekuatan yang sebenarnya tidak sesuai prosedur apalagi sudah dengan senjata. Dalam hal ini Manajemen Sabhara itu adalah penting untuk dipahami dan dilaksanakan oleh pimpinan wilayah kepolisian dan jajarannya,” tuturnya.

 

Pada kesempatan istimewa tersebut muncul diskusi yang sangat produktif dan akhirnya melahirkan dua kesimpulan penting.

 

Pertama, jika demikian pentingnya tugas-tugas di Satuan Sabhara Polri, maka anggota dengan pangkat Brigadir Dua sekalipun harus dibekali dengan kemampuan tentang kepemimpinan. Artinya seorang Polisi Sabhara harus mampu tunjukan kemampuan seorang pemimpin saat menjalankan tugas.

 

Didalamnya menyangkut tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat yang setiap saat harus ditingkatkan. Semuanya harus tercermin dari sikap anggota Polisi Sabhara itu sendiri. Dengan demikian, masyarakat juga akan memiliki sikap hormat terhadap kewibawaan seorang polisi.

 

Kedua, yaitu sikap pribadi. Jangan ada mental atau pikiran karena pangkat hanya brigadir, lantas kerja sekedar saja datang ke kantor atau pos jaga hanya untuk mengisi jadwal piket atau berkeliling untuk patroli. Untuk itu dalam hal ini dibutuhkan program pelatihan di satuan bersangkutan.

 

“Jadi intinya dapat disimpulkan yaitu baik dia seorang Kapolres atau polisi yang bertugas patroli di lapangan, sama-sama harus punya kecakapan tentang Manajemen Sabhara, dimana didalamnya ada kepemimpinan. Yang beda hanya pada kewenangan mengatur anggaran dan keputusan strategis,” tandasnya.

 

(YOUNGKY)

 

Comments

comments

Posted by on 22 September, 2017. Filed under Berita Utama,Breaking News,Manado,Nasional,Pendidikan,Pertahanan,Tomohon. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *