Ahli Sebut Kesalahan Bos Big Fish

Hotel Big Fish Manado dan Pangkala Paris 88 yang letaknya memang bersandingan/Foto?ist

MANADO, OKE  – Sidang kasus pengrusakan usaha transportasi Paris 88 yang menyeret Terdakwa PMS alias Ko Pieter (58) sekalu Bos Big Fish semakin menarik untuk disimak. Dalam persidangan, Selasa (1/8) , Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan ahli Michael Barama SH MH selaku Dosen di Fakultas Hukum Unsrat, di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Alfi Usup SH MH.

Dalam penjelasannya ahli membenarkan bahwa perbuatan terdakwa adalah akibat dari kelalaiannya. Sehingga mengakibatkan kerusakan terhadap barang dalam hal ini bangunan milik korban. Seusai mendengarkan tanggapan ahli Majelis Hakim menunda sidang hingga pekan depan.

Sebelumnya, perkara ini oleh Hakim telah melakukan sidang lapangan pada Jumat (9/6) lalu. Di mana ditemukan fakta memang adanya kerusakan atap dan dinding, adanya penurunan tanah sekitar 15Cm di sepanjang dinding bangunan yang bersebelahan dengan hotel. Sementara di persidangan di PN Manado, kala Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Kepala Tukang konstruksi bangunan Hotel Big Fish yakni Dani Wauran juga telah membeberkan sejumlah fakta lainnya.

Pengakuan saksi pada sidang yang digelar tanggal 18 bulan Mei 2017 itu menjelaskan ia dipaksa oknum pemilik Hotel Big Fish untuk melanjutkan pembangunan. Meski pihak Pemerintah Kota Manado melalui Kelurahan setempat menegur dan merekomendasikan secara tatap muka, agar dihentikannya pembangunan. dirinya juga membenarkan bahwa telah terjadi kerusakan bangunan jasa transportasi Paris 88. Mulai dari penurunan tanah yang bersebelahan bangunan hotel. Kerusakan atap akibat reruntuhan sisa material tak terpakai hingga keretakan dinding rumah bangunan.

Diketahui kasus ini berawal pada tahun 2013. Kala itu terdakwa memerintahkan para pekerjanya untuk mengerjakan pembangunan Ruko. Dinding Ruko yang dibangun itu menempel pada pagar bangunan milik korban. Alhasil terjadilah kerusakan pada bangunan milik korban. Seperti terdapat keretakan di dinding bangunan korban terutama di bagian kamar mandi. Ditambah lagi dengan adanya pembangunan itu, menyebabkan terjadinya penurunan lantai dari bangunan korban.

Hal ini membahayakan barang mau pun orang yang tinggal di dalam bangunan korban.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat JPU dengan ancaman pasal 406 ayat (1) Juntto pasal 55 ayat 1, dan pasal 201 ayat (1) Ke-1 KUHPidana.(*/YoPo)

Comments

comments

Posted by on 1 August, 2017. Filed under Berita Utama,Breaking News,Kriminal,Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *