Ekonomi Politik dan Kesehatan Indonesia Oleh ADM Dalam Kajian Bedah Buku

MANADO, OKE – “Buku ini ditulis karena latar belakang saya sebagai anggota DPR RI sejak 2009. Buku ini merupakan refleksi saya selama menjadi anggota DPR dalam melihat dinamika ekonomi, politik dan kesehatan di Indonesia,”

Hal tersebut disampaikan oleh Adityah Anugrah Moha pada acara bedah buku yang berjudul “Ekonomi, Politik dan Kesehatan Indonesia” yang merupakan hasil karyanya sendiri diRumah Kopi RA Coffee Classic Kelurahan Ternate Baru. Sabtu (09/04/14).

Pemikiran Aditya Anugera Moha, terkait Ekonomi, Poltik dan Kesehatan yang dicurahkan dalam sebuah karya buku berjudul “Ekonomi, Politik dan Kesehatan Indonesia” dibedah tiga pakar di Sulawesi Utara, dengan mengambil tempat di Rumah Kopi Classic RA, Ternate Baru, Sabtu (8/4).

Tiga pakar dengan spesifik keilmuan yang berbeda yakni, Dr Taufik pasiak yang mengulas dari sisi kualitas pelayanan kesehatan, Dr Ferry Daud Liando dari sudut pandang kebijakan politik DPR dan pemerintah serta Dr Noldy Tuerah, pakar ekonomi dari sisi kebijakan anggaran yang menjadi pembicara dalam acara bedah buku tersebut.

dr. Taufik Pasiak saat mengulas buku tersebut, Dirinya menitikberatkan permasalahan Indonesia dalam sisi pelayanan kesehatan publik yang dinilainya ‘tebang pilih.’ Menurutnya, prinsip-prinsip melayani tergantung faktor ekonomi, kedekatan politik dengan penguasa. Dirinya pun  menyentil bahwa masih banyak dokter maupun paramedis melakukan praktek yang tidak diketahui konsumen.

“Buku Aditya karya Aditya menjadi bacaan wajib bagi para aktivis, bahkan saya merekomendasikan untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran agar membacanya,” ujar dr Taufik Pasiak.

Sementara itu, Noldy Tuera sebagai seorang pengamat ekonomi menilai pelayanan kesehatan kita tidak memadai karena melihat kesehatan sebagia sebuah industri, sehingga terjadi proses kapitalisasi di dalamnya.

“diantaranya adalah adanya kerjasama antara dokter dan industri farmasi serta alat kesehatan agar obat dan alat kesehatan tertentu bisa lebih banyak terjual di pasaran. Ini bagian dari kapitalisasi kesehatan,”kata Tuera.

Disisi lain, Fery Liando melihat kesehatan dalam perspektif pengambil kebijakan. “kebijakan yang diambil terkait pelayanan kesehatan haruslah mampu bekerja di lapisan paling bawah. Sehingga masyarakat memperoleh apa yang sudah dijamin oleh konstitusi. Karena masalah dalam pelayanan kesehatan sebenarnya bukan soal kebijakan, tetapi pelaksana kebijakan di lapangan” sebut Liando dalam paparannya.

ADM pun berterima kasih atas respon positif peserta diskusi terhadap buku setebal 192 halaman itu. Dalam diskusi yang dipandu Idham Malewa, peserta bedah buku ini antusias berbagi pendapat. Mereka yang hadir adalah akademisi, politisi, budayawan, aktivis, hingga penulis buku.

(tsir)

Comments

comments

Posted by on 9 April, 2017. Filed under Bitung,Bumi Totabuan,Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *