Peluru Produksi Malaysia Beredar Bebas di Perbatasan Kalbar | Berita Manado Online

Peluru Produksi Malaysia Beredar Bebas di Perbatasan Kalbar

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. foto : ist

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat. foto : ist

PONTIANAK, OKE – Peluru khusus untuk berburu buatan Federasi Malaysia memang marak dan beredar illegal di kalangan masyarakat di perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.

“Namanya peluru bomen. Sangat populer di kalangan masyarakat untuk berburu. Warnanya agak kehijau-hijauan. Dalam satu selongsong peluru berisi 5,8 dan 12 butir timah,” kata Aleksius, Asisten Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkayang dilansir SinarHarapan, Jumat (30/8).

Pemerintah Kabupaten Bengkayang berhadapan langsung dengan Negara Bagian Sarawak. Sementara, Pos Lintas Batas Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang berhadapan langsung dengan Distrik Serikin di Negara Bagian Sarawak.

Aleksius mengatakan, 250 selongsong amunisi buatan Malaysia kaliber 12 sepanjang 70 milimeter disita oleh tum yang dipimpin Kepala Polsek Batang Lupar Inspektur Dua Polisi Edhi Trisno di Bukit Genting, Lanjak, Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu (28/8). Tersangkanya, Ahmad Jais alias AJ (43). Kasus ini bukan hal yang baru, dia menambahkan.

Warga Indonesia di perbatasan, kata Aleksius, sangat menyukai peluru berburu buatan Malaysia. Peluru tersebut dijual seharga Rp. 25 ribu hingga 35 ribu per butir.

“Kita patut berikan apresiasi, kendatipun lokasi penangkapan bukan di wilayah Kabupaten Bengkayang. Tapi masalahnya peluru buatan Malaysia memang beredar secara ilegal cukup marak di perbatasan,” kata Aleksius.

Menurut Aleksius, ada kesan Federasi Malaysia bersikap ganda di dalam kebijakan peredaran peluru khusus untuk berburu. Peluru tersebut dilarang beredar di dalam kota, tapi khusus di wilayah perbatasan darat dengan Kalbar, peredaran bomen malah diberi izin.

Aleksius berharap Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perdagangan, mengkritisi kebijakan berstandar ganda Pemerintah Federasi Malaysia terhadap peredaran peluru untuk berburu di wilayah perbatasan tersebut.

Mengingat cakupan wilayah perbatasan yang begitu luas, aparat penegak hukum kesulitan melakukan pengawasan peredaran peluru bomen ilegal di kalangan masyarakat Indonesia. Karenanya, butuh tingkat kesadaran hukum yang tinggi agar masyarakat tidak tergiur membeli peluru berburu buatan Malaysia.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polisi Daerah Kalbar Ajun Komisaris Besar Polisi Mukson Munandar, mengatakan, pihaknya akan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran peluru Malayasia ilegal di kalangan masyarakat. Pengungkapan kasus di Polsek Batang Lupar akan menjadi salah satu momentum bagi jajaran penegak hukum untuk menegakkan supremasi hukum di wilayah perbatasan, terkait perdagangan ilegal.

Kapolsek Batang Lupar Edhi Trisno mengatakan, ketika ditangkap, tersangka Ahmad Jais tengah mengendarai sepeda motor Yamaha Zupiter Z bernomor polisi KB 3192 FF. Ahmad Jais, warga Indonesia, tidak melawan dan langsung digiring ke Kantor Polsek Batang Lupar.

Ahmad Jais memang sudah lama jadi target polisi, karena aktivitasnya menjual peluru bomen ilegal kepada masyarakat Indonesia. Polisi terus mengembangkan penyidikan pihak-pihak mana saja yang telah menerima pasokan peluru bomen dari Ahmad Jais.

Ada dugaan, aksi jaringan peredaran peluru illegal Malaysia yang masuk lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Nanga Badau, sampai ke Putussibau, Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, sudah berlangsung lama. Tapi Ahmad Jais mengaku baru dua kali menjual peluru bomen Malaysia di Putussibau.

 

[***wan/SH-news]

Posted by on 30/08/2013. Filed under Berita Terbaru,Berita Utama,Internasional,Nasional. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 6 = 2

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>