Jadi Tempat Transaksi Prostitusi, Monumen Lilin Dinilai Mubazir

Sekretaris Komisi A DPRD Manado, Markho Tampi.(foto:okemanado)

Sekretaris Komisi A DPRD Manado, Markho Tampi.(foto:okemanado)

MANADO, OKE – Menindaklanjuti opini Wajar Dalam Pengecualian (WDP) yang diraih Pemerintah Kota (Pemkot) Manado, Komisi A DPRD Manado melalui Sekretaris Komisi Markho Tampi menyoroti pengelolaan aset yang dinilai mubazir. Dicontohkannya, aset monumen lilin yang terletak di kawasan Marina Plaza.

“Entah apa fungsi dari monumen tersebut. Tidak jelas. Sudah terlalu banyak monumen yang dibangun. Ini mesti didukung dengan fungsi,” kata Tampi.

Dilanjutkannya, selain tidak jelas fungsi dari monumen tersebut anggaran yang diperuntukkan untuk membangun monumen tersebut pun tidak sedikit.

“Anggarannya senilai 12 Miliar. Ini namanya membuang-buang duit rakyat. Monumen itu mubazir,” tegas legislator Fraksi PDIP ini.

Parahnya lagi, dari informasi yang dirangkum, tidak berfungsinya monumen tersebut dengan efektif, menyebabkan lokasi tersebut kerap digunakan sebagai tempat berlangsungnya transaksi prostitusi lokal.

Atas hal ini dirinya meminta agar pihak Pemkot Manado mengelola dengan baik sejumlah aset yang ada, termasuk monumen lilin.

“Sebab itu hasil dari rakyat yang perlu dilestarikan,” pungkas Tampi.

Reporter: Ivan Jeremy

Comments

comments

Posted by on 25 June, 2013. Filed under Berita Utama,Breaking News,Manado,Oke Manado,Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *