BBM Komoditas Wow dan Laris Manis

Soleman Montori. (foto: ist)

Soleman Montori. (foto: ist)

MANADO, OKE – Bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu komoditas yang penting. Hampir semua masyarakat menggunakannya. Sehingga, kenaikan harganya sering menjadi polemik yang lama dan panjang karena dapat mempengaruhi kinerja ekonomi.

Sebelumnya, reformasi kenaikan harga BBM hanya dikontrol secara terbatas oleh birokrasi pemerintah. Tapi sekarang ini agak kompleks, karena hampir semua elemen masyarakat dengan kesadaran diri yang tinggi terpanggil untuk mengontrolnya, mulai dari rakyat biasa, mahasiswa, apalagi pengamat dan politisi yang kontra.

Setiap rencana kenaikkan harga BBM bersubsidi selalu memunculkan polemik berupa sikap pro dan kontra. Bahkan sering dipolitisasi oleh elit politik yang kontra demi mencari dan menuai simpati rakyat.

Belakangan ini isu kenaikan harga BBM bersubsidi semakin kencang berembus. Beragam pendapat bermunculan, sebagian masuk akal, sebagian lainnya di luar akal, dan yang lainnya membingungkan.

Emosi rakyat selalu dipermainkan. Kalimat kenaikan BBM tidak pro rakyat, memiskinkan rakyat, atau menyengsarakan rakyat selalu dijadikan bahan dan alasan untuk menolak kenaikkan harga BBM. Padahal sesungguhnya yang menolak adalah orang-orang yang menyuarakan penolakan itu sendiri, bukan rakyat; namun anehnya nama rakyat selalu sebut-sebut ada dipihak yang menolak.

Di era yang terbuka dan transparan, kontrol terhadap kebijakan dan manajemen publik didorong dan dibuka luas, namun tetap dalam koridor aturan, sopan santun dan menjunjung tinggi nilai etika.

Bagi pemerintah menaikkan harga BBM telah disadari bahwa bukan merupakan kebijakan populis; kenaikan semata-mata dilakukan untuk menekan atau mengurangi subsidi, karena subsidi BBM yang jumlahnya ratusan triliun sangat memberatkan APBN dan tidak tepat sasaran, mempengaruhi persepsi negatif kesinambungan fiskal dan menekan nilai rupiah.

Subsidi BBM yang terlalu besar dapat mengganggu keseimbangan APBN, akibatnya cepat atau lambat akan membawa dampak negatif terhadap performa perekonomian secara nasional. Dan, kalau BBM tidak dinaikkan akan mengakibatkan beban subsidi energi di dalam APBN terus membengkak.

Untuk menekan impor minyak dan BBM, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah selain menaikkan harga BBM subsidi karena dampak positifnya lebih besar ketimbang dampak negatifnya, yaitu dapat menjaga keseimbangan APBN.

Pemerintah pada tahun 2013 ini menganggarkan subsidi energi hampir Rp 300 triliun; dari jumlah Rp 300 triliun tersebut, Rp 193 triliun digunakan untuk subsidi BBM, sisanya untuk subsidi listrik. Menurut hitungan pemerintah, harga keekonomian BBM subsidi Rp 9.500 per liter, sehingga kalau harga BBM Rp 4.500 per liter, berarti pemerintah masih mengsubsidi premium dan solar sebesar Rp 5.000 per liter.

Menteri Keuangan, Muhammad Chatib Basri mengatakan bahwa, jika harga BBM naik, belanja subsidi akan lebih terkendali, sehingga bisa bermanfaat untuk menyukseskan program-program yang lebih adil dan merakyat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan.

Demikian juga dengan Kepala Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK-Migas), Rudi Rubiandini mengatakan bahwa Indonesia hanya memiliki cadangan minyak 3 miliar barel dan hanya 0,3 % dari total cadangan minyak dunia.

“Hanya cukup sampai 12 tahun,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa Indonesia kalah dengan Vietnam yang memiliki cadangan minyak 4 miliar barel, dan kalah jauh bila dibanding dengan Venezuela yang memiliki cadangan minyak 300 miliar barel dan Saudi Arabia 270 miliar barel.

“Di dunia ini hanya 13 negara yang berani memberikan subsidi BBM. Salah satunya adalah Indonesia. Yang berani memberikan subsidi BBM adalah negara kaya minyak seperti Venezuela, Saudi Arabia, Iran, Irak, Kuwait, dan juga Indonesia walaupun cadangan minyaknya hanya 3 miliar barel,” kata Rubiandini.

BBM sebagai salah satu komoditas penting dan strategis, kini telah menjadi incaran banyak orang. Semua lapisan masyarakat tergiur dan tergoda menyelewengkannya. Misalnya muncul sejumlah “Pertamini” di pinggir jalan yang menjual BBM bersubsidi dengan alasan untuk membantu masyarakat, tapi nyatanya harga jualnya tidak membantu masyarakat, karena dijual dengan harga sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 bahkan pada hari-hari raya bisa lebih.

Pengusaha dan industri nakal juga kadangkala mencari keuntungan dengan cara menimbun BBM; dan sangat menyedihkan adalah perilaku oknum aparat yang kadangkala menjadi backing para pengusaha yang nakal.

Berdasarkan data dan sejumlah fakta ini, kenaikan BBM bersubsidi merupakan kebijakan yang tak dapat ditawar-tawar. Subsidi yang tidak tepat sasaran membebani APBN. Wajar jika BBM subsidi dinaikan, karena selain harganya tidak mencapai 1 dolar Amerika Serikat bahkan harganya lebih mahal dari harga 1 liter air mineral rawan penyelewengan dan penyeludupan.

Selain itu, mengsubsidi kelompok masyarakat yang tidak berhak menerimanya tidak pernah dikeluarkan oleh negara mana pun.

Mengapa harga BBM bersubdi harus dinaikkan, karena beberapa alasan, yaitu: 1) Indonesia merupakan net importer BBM, namun Indonesia sebagai net importer tidak diakui oleh publik, akibatnya masalah BBM membias ke konflik sosial, permusuhan dan konflik antarkelompok; 2) BBM selama ini yang dikonsumsi publik 48 – 48,5 kiloliter menurut Edy Hermantoro meningkat tajam; 3) alat transfortasi yang membutuhkan BBM terus bertambah dan berlipat ganda, misalnya jumlah kendaraan bermotor sampai Februari 2013 sekitar 94,2 juta unit sesuai data kepolisian RI; 4) subsidi BBM hampir Rp 300 triliun sangat membebani APBN; 5) subsidi BBM diperuntukkan bagi kelompok lemah/miskin, nyatanya juga dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mampu secara ekonomi; sekitar 70-80 % tidak dinikmati oleh rakyat miskin; 6) penyesuaian harga BBM mendekati harga pasar menandakan bahwa bangsa Indonesia membuka diri untuk perdagangan bebas.

Apakah harga BBM di Indonesia merupakan yang termahal sehingga banyak pihak yang keberatan, protes dan menolak kenaikkan harganya? Sebagai bahan perbandingan, dapat kita lihat harga BBM di Filipina sebesar Rp 12.147 per liter; di Singapura Rp 15.695 per liter; di Thailand Rp 12.453 per liter; BBM pada tiga negara ini tidak disubsidi. Menurut Rudi Rubiandini, harga BBM di Eropa bisa lebih dari Rp 24.000 per liter karena kena pajak.

Perbandingan harga BBM lainnya, kita bisa temui di Puncak Jaya, Papua. Harga BBM di sana berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 60.000 bahkan bisa mencapai Rp 100.000 lebih per liter. Mereka memahami dan sudah terbiasa; tidak ada yang demo-demo.

Nukilan: Kabag Humas Pemkot Manado, Drs. Soleman Montori, MPd

Comments

comments

Posted by on 19 June, 2013. Filed under Berita Utama,Breaking News,Manado,Oke Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *