Sepenggal Kisah dari Cucu Penggerak Tari Jajar di Minahasa

Cucu penggerak tari jajar di Minahasa, Mrs. Mar Oomen.(foto:okemanado/van)

Cucu penggerak tari jajar di Minahasa, Mrs. Mar Oomen.(foto:okemanado/van)

MINAHASA, OKE–Kompetisi tari jajar yang digelar dalam kegiatan Pertemuan Raya ke-V dan Konferensi Kaum Bapak Katolik (KBK) Keuskupan Manado, menghadirkan sepenggal kisah menarik. Pasalnya, dalam pementasan tersebut, hadir sosok wanita berperawakan tinggi semampai dari negeri kincir angin alias Belanda. Apalagi, sang bule tersebut, terlihat menikmati gerak-gemulai para peserta di atas panggung. Sesekali, senyum merekah di bibirnya. Berdecak kagum dan terlihat bangga.

Ketika dihampiri okemanado, sembari berbincang-bincang di saat-saat jeda, wanita tersebut sangat ramah. Apalagi, sikapnya yang mudah bersahabat, cukup membuat wartawan media ini bisa berkomunikasi intensif. Dari penelusuran, sang bule wanita itu, dikenal dengan nama Mrs. Mar Oomen, dan tujuannya menginjakkan kaki di bumi Minahasa ini hanya karena ingin melihat pementasan tari jajar.

Kisah menarik mulai menguak. Dari sekian banyak perbincangan yang dilalui, terungkap bahwa, Ooomen, sapaan akrabnya, ternyata adalah cucu dari penggerak tari jajar di Minahasa.

“Sejak kecil , saya sering mendengar cerita tentang tari jajar, dari ibu saya. Beliau mengatakan, kakek dan nenek saya adalah penggerak tari jajar ini, sewaktu mereka berdomisili di Tomohon,” ungkap Oomen.

Dirinya mengaku, tari jajar ini, memang dilahirkan masyarakat Minahasa. Namun, belum terlalu dikenal pada saat itu. Dilanjutkannya, kecintaan kakek dan neneknya terhadap tari jajar yang begitu besar ini, bermula ketika warga setempat mengajarkan tarian ini pada mereka.

“Ya, mereka belajar dari orang Tomohon. Setelah tahu, mereka (kakek dan nenek Oomen-red) semakin cinta,” ujarnya.

Kecintaan ini semakin besar. Apalagi, ditunjang dengan profesi sang kakek sebagai seorang dokter, di Rumah Sakit Gunung Maria, di Tomohon.

“Kakek saya bernama Hapc Janus Oomen, dan nenek saya bernama Stans Oomen. Waktu itu, beliau bertugas di sana. Jadi, pengalaman belajar tarian ini berlangsung efektif. Setelah itu, kakek dan nenek saya, mengajarkannya kepada sejumlah anak muda yang tinggal di Asrama Walterus. Entah bagaimana jadinya, semua lalu berkembang hingga sekarang,” katanya.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai terwujudnya keinginan Oomen untuk melihat secara langsung pementasan tari jajar, dirinya mengatakan momen ini adalah pengalaman yang sangat spesial, dan takkan pernah dilupakannya.

“Ini sesuatu yang sangat spesial.Tapi, akan lebih spesial lagi, kalau sekian banyak orang muda bisa memperkenalkannya hingga seluruh daerah,” katanya.

Menutup wawancara ini, Oomen berterima kasih kepada antropolog, DR. Ricardo Renwarin yang telah membantu mewujudkan keinginannya melihat langsung tarian ini. Tak lupa ia berpesan, agar tarian ini dilestarikan, sebab telah menjadi bagian tradisional dari masyarakat Minahasa.

“Saya berharap dan berdoa untuk itu,” tegas alumnus Universitas Amsterdam ini.

Reporter: Ivan Jeremy

Comments

comments

Posted by on 8 June, 2013. Filed under Berita Utama,Breaking News,Minahasa,Oke Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *