Tak Kapok, Jaksa Masih Juga Rakus dan Bobrok

(ilustrasi)

(ilustrasi)

JAKARTA, oke – Jaksa Urip Tri Gunawan dan Cirus Sinaga ternyata hanya puncak gunung es jaksa nakal. Meski kedua jaksa yang telah ditangkap dan dihatan Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) akibat kenakalannya itu diharapkan jadi ‘proyek percontohan’ atau psywar bagi para jaksa, namun masih banyak juga oknum jaksa ‘nakal’ dan bermasalah. Korupsi, nguntal duit rakyat, minta sogokan, suap, peras, cincai masih jadi santapan jaksa sontoloyo sehari-hari.

Terakhir, KPK kembali menangkap tangan jaksa yang diduga melakukan tindak pidana penyuapan. Seorang jaksa dari Kejaksaan Negeri Cibinong, Bogor, berinisial ‘S’ ditangkap KPK karena menerima sogok dari pengusaha yang sedang beperkara. Jaksa yang bertugas menangkap pelaku korupsi, malah ditangkap karena korupsi. Jaman edan, aparat hukum berperilaku kampret.

Akibat masih banyaknya oknum jaksa berperilaku korup, meski gajinya sudah dinaikkan berlipat ganda melalui renumerasi, bikin Jaksa Agung Basrief Arief mencak-mencak. Pentolan Kejaksaan Agung ini pun mengaku-aku akan bertindak tegas seluruh jaksa bermasalah. Tidak hanya itu, Jaksa Agung juga mengatakan akan menjadi ‘raja tega’ jika anak buahnya kembali melakukan tindak pidana. Ucapan ‘hebat’ ini disampaikan Basrief Arief saat mengikuti seminar Komisi Kejaksaan RI di Jakarta, Rabu (23/11). Ah, yang bener? Apa iya Jaksa Agung akan menjadi ‘raja tega’ menyusul sikap anak buahnya yang melakukan pelanggaran disiplin dan perbuatan tercela.

Jaksa Agung kecewa berat karena tunjangan kerja (remunerasi) sebesar Rp609,5 miliar sudah dicairkan untuk para jaksa pada Oktober lalu. Ketika itu, 44 ribu pegawai kejaksaan menerima remunerasi tetapi hal itu ternyata sepertinya tidak dihargai oleh pegawai kejaksaan. Nampaknya, memang yang konyol dan sontoloyo adalah perilaku individu manusianya, bukan karena harus diberi gaji tinggi. Daftar jaksa yang ditangkap karena menerima suap selalu saja ada dari waktu ke waktu.

Penyidik KPK yang menangkap jaksa ‘S’ dengan ditemukan uang Rp 100 juta yang diterima Jaksa tersebut diduga cuma uang muka. Nilai suap keseluruhan dikabarkan mencapai sekitar Rp 2,5 miliar. Diduga pula jaksa ‘S’ tidak sendirian, mungkin uang itu dibagiakn kepada para atasannya. Dengan masih adanya jaksa-jaksa korup bergentayangan di negeri bedebah ini, akan bikin rakyat semakin geregetan. Jaksa sudah diberi remunerasi dengan menerima gaji puluhan juta ditambah tunjangan dan fasilitas lainnya, tapi masih juga korupsi. Rakyat yang hidupnya susah banyak yang bunuh diri akibat tekanan ekonomi. Kontras amat?!

Adnan Buyung Nasution kecewa dengan tertangkapnya Jaksa ‘S’ yang sangat mencoreng dan memalukan dunia peradilan kita. Apalagi, mantan kepala humas Kejaksaan Agung yang harusnya menjadi mata, telinga dan mulut bagi masyarakat, malah melakukan tindakan yang mencoreng. Harusnya Jkasa ‘S’ peka terhadap kejadian di masyarakat, dan selalu membela rakyat, bukan sebaliknya. Harusnya, seorang aparat penegak hukum dapat menjadi contoh yang baik kepada rakyatnya, bukan memeras rakyat atau merampok uang rakyat.”Saya pikir sebagai Jaksa Agung harusnya menindak, kalau perlu mundur begitu ada anak buahnya yang terlibat kasus kalau dia seorang kesatria. Jangan hanya Marwan yang maju bicara, ga cukup,” tegas Buyung sembari menyatakan kecewa terhadap Komisi Kejaksaan yang tidak responsif dan tidak bekerja dengan baik mengawasi jaksa.

Tak hanya korupsi, ada juga oknum jaksa yang melakukan tindakan asusila. Kepolisian Resort Majene, Sulbar, menangkap jaksa berinisial ‘H’ yang diduga lakukan tindakan asusila pada seorang tahanan wanita, Ismirat atau Cimmi (33) di LP Majene. Tahanan wanita ini mengaku dihamili jaksa ‘H’ yang kemudian tidak mau bertanggung jawab, padahal usia kehamilannya mencapai enam bulan. Sebelumnya, Komisi III DPR menerima pengaduan ihwal aksi sejumlah jaksa di daerah yang memeras kepala daerah, baik yang sedang terhimpit kasus maupun yang tidak.

Meski KPK telah menangkap dan menahan sejumlah oknum jaksa, kayaknya kalangan jaksa hanya ‘kapok Lombok’ yakni bilang pedas saat makan sambal, tapi hari berikutnya ingin makan lagi. Jaksa macam beginian harus diberi efek jera, disuruh makan Lombok (cabe) segudang agar pedas kesakitan. Artinya, jaksa harus dihukum berat seumur hidup dan dibikin malu di depan umum, apabila terbukti melakukan korupsi, biar menjadi efek jera bagi jaksa-jaksa mafia lainnya yang ‘rajin’ melakukan korupsi. Bila perlu disiapkan peti mati bagi setiap terdakwa koruptor di China, dipancung saja biar mampus. (jakartapress)

Comments

comments

Posted by on 18 April, 2013. Filed under Berita Utama,Breaking News,Kriminal,Nasional,Oke Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *