Menelusuri Nuansa Dramatisasi Jalan Salib Hidup Paroki St Antonius Padua Tataaran

Panitia dan pemeran dramatisasi kisah sengsara Yesus foto bersama usai menggelar prosesi tersebut.(foto:okemanado/rep-4)

Panitia dan pemeran dramatisasi kisah sengsara Yesus foto bersama usai menggelar prosesi tersebut. Tampak pula Kapolres Minahasa Henny Posumah yang ikut serta dalam perayaan Ekaristi usai prosesi dan dramatisasi Jalan Salib Hidup.(foto:okemanado/rep-4)

Minahasa, Tataaran, Oke–Pementasan dramatisasi dalam memperingati Jumat Agung di Paroki St Antonius Padua Tataaran ini terbilang menarik. Pasalnya, sejumlah pemeran telah dibekali dengan karakter dan latihan yang rutin selama satu bulan. Apalagi, dari penelusuran, pementasan ini sudah dilaksanakan sekitar 4 kali, selama 4 tahun. Itu sebabnya, dialog dan karakter yang ditampilkan sangat kuat dan kental dengan gaya dan ciri khas kisah sengsara dalam Injil.

Kisah dimulai, ketika Yesus bersama murid-murid-Nya pergi berdoa di Taman Getsemani. Padahal di sisi lain, Yudas salah seorang murid Yesus telah dibujuk oleh tiga imam agung dari kalangan Yahudi. Akhirnya dengan uang sejumlah 30 keping perak, Yudas berhasil ‘menjual’ Yesus untuk dihukum mati.

Kepala algojo sedang menghakimi Yesus.(foto:okemanado/rep-4)

Kepala algojo sedang menghakimi Yesus.(foto:okemanado/rep-4)

Tak tunggu lama, para serdadu pun menangkap Yesus. Dia kemudian dihadapkan kepada tiga imam agung, Herodes dan Pilatus untuk dihukum mati, di kayu salib.

Prosesi berlanjut. Umat diarak dari lokasi pementasan awal, Stasi St. Ignasius Perum Unima menuju rute yang ditentukan dengan lokasi penyaliban, di Kompleks SD Katolik St. Antonius Padua Tataaran. Kira-kira 2 km jauhnya. Adapun dalam rute tersebut ada beberapa titik lokasi perhentian tempat di mana umat berdoa, dan mendalami via dolorosa Kristus.

Ribuan umat terlihat antusias. Bahkan para pemeran pun terlihat bersemangat. Tak hanya itu, sejumlah warga pun turut menonton prosesi ini. Ada yang menepuk dada, bahkan ada pula yang mengucurkan air mata.

Adegan di mana pemeran Yesus dicambuk.(foto:okemanado/rep-4)

Adegan di mana pemeran Yesus dicambuk.(foto:okemanado/rep-4)

“Sungguh sebuah pengalaman rohani yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata,” kata Aquino Mawikere.

Cuaca pun tampaknya mendukung. Apalagi, beberapa umat menuturkan kondisi cuaca yang mendung sama persis seperti yang digambarkan dalam Injil.

“Bahkan langit pun seperti mau menangis,” ujar Hanny Mangkey.

Setelah tiba di lokasi penyaliban, pakaian Yesus ditanggalkan dan kemudian disalibkan. Menjelang ajal-Nya umat kelihatan semakin cemas. Apalagi, sewaktu Yesus menghembuskan nafas terakhir. Suara petir dan halilintar yang menggelegar menambah situasi mencekam.

Adegan Yesus wafat di kayu salib.(foto:okemanado/rep-4)

Adegan Yesus wafat di kayu salib.(foto:okemanado/rep-4)

Usai proses dramatisasi, umat langsung menuju Gereja untuk dikuatkan imannya lewat santapan sabda dan komuni serta prosesi penciuman salib. Meski terlihat lelah, namun ribuan umat tetap mengikuti Misa dengan penuh semangat. Apalagi, lantunan merdu dari Saint Anthony Youth Choir, berkumandang megah memuji karya penebusan Kristus yang membebaskan manusia dari dosa. Proses dramatisasi ini juga turut melibatkan sejumlah aparat keamanan yakni pihak kepolisian wilayah setempat. Apalagi, Kapolres Minahasa Henny Posumah turut hadir dalam perayaan Ekaristi usai prosesi. Sementara itu bertindak sebagai pengawas keamanan demi kelancaran prosesi yaitu James Wuisang dan Ronny Mawikere dari pihak kepolisian setempat.(rep4)

Berikut Panitia dan Pemeran Dramatisasi Jalan Salib Hidup Paroki St Antonius Padua Tataaran.

  1. Ketua Panitia : Klemens Mawikere
  2. Yesus : Theo Mampouw
  3. Yudas : Felix Mawikere
  4. Maria : Katty Lalogirot
  5. Maria Magdalena: Theresia Taroreh
  6. Maria Isteri Kleopas : Cicilia Ngantung
  7. Pilatus : Denny Poluakan
  8. Imam Anas : Markho Rengkuan
  9. Imam Kayafas : Marthen Mawikere
  10. Imam : Yustus Karwur
  11. Herodes : Berty Supit
  12. Panglima Tentara : Jones Rengkuan
  13. Kepala Algojo : Fanny Kainde
  14. Petrus : Novy Rambing
  15. Perempuan Yahudi yang menuding Petrus : Lanny Datu dan Meidy Turangan
  16. Veronica : Roxy Kainde
  17. Wanita-wanita Yerusalem : Wilayah St Stefanus
  18. Prajurit melibatkan personil IPDN sekitar 20 orang
  19. Orang Yahudi diambil dari praja IPDN dan anggota KBK Paroki
  20. Isteri Pilatus : Lily Mawikere
  21. Isteri dan Selir Herodes: Rona Moningka, Syull Lembong dan Grace Mawikere.
  22. Pembawa doa : Siska Karundeng, Yasinta Angow, Delly Mangkey
  23. Sound System : Mario Nongka, Broery Pallit
  24. Ketua DPP : Julius Tumilantouw
  25. Ketua KBK Paroki : Maxy Karouw
  26. Pengawas keamanan : Anggota Polres Minahasa, Ronny Mawikere dan James Wuisang.
  27. Pastor Paroki : RD. DR. Yoseph Ansow Pr
  28. Seluruh Umat Paroki St. Antonius Padua Tataaran.

Comments

comments

Posted by on 30 March, 2013. Filed under Berita Utama,Breaking News,Minahasa,Oke Manado. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

One Response to Menelusuri Nuansa Dramatisasi Jalan Salib Hidup Paroki St Antonius Padua Tataaran

  1. Steven Reply

    1 April, 2013 at 15:27

    Sukses untuk okemanado.com, maju terus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *